0
WMN 2015 -- Saya cukup gembira ketika facebook akhirnya memasukkan Bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa alternatif choice untuk digunakan pengguna facebook. Tentunya bagi mereka yang mengerti Bahasa Jawa.

Rasa bangga saya makin besar manakala Bahasa Jawa duduk sejajar dengan bahasa - bahasa lain seperti Arab, Anglikan, Portugal, China, Tagalog, Thailand, Jerman, Rusia, Belanda, Denmark, Slavik, Swahili dan tentu saja Bahasa Linggis eh Inggris yang amat dibanggakan salah satu oknum jongos dari Indonesia yang bekerja di luar negeri, lewat ungkapan "iiiiihhh....amit - amit ! Enggak banget deh facebook eike pakai Bahasa Indonesia. Kampungan ! Pinter-pinter kok efbinya masih pakai Bahasa Indonesia siiiiyyyyyy? Eikeh mah enggak bangeeeeeet dah pake Bahasa Indonesia. Mending Bahasa Inggris, rada internasionallah dikit. Secaraaaaaaaahhh, eikeh khan sudah jadi orang luar negeri !"

Namun rasa bangga itu belum lah sepenuhnya sempurna ketika melihat kenyataan yang memaparkan kepada saya bahwa facebook - mungkin tepatnya tim perumus Bahasa Jawa untuk facebook - tidak sepenuhnya mengerti tata bahasa Jawa atau grammar Bahasa Jawa di mana Bahasa Jawa seperti juga Bahasa Sunda, Bali dll yang memiliki tatanan strata atau kelas - kelas komunikasi interaktif yang umumnya dibedakan oleh usia, status sosial dan tujuan penghormatan tertentu.

Saya mengenal Bahasa Jawa memiliki 3 strata yang berbeda yakni NGAKA ( dibaca "ngoko" ) digunakan oleh seorang pembicara kepada lawan bicara yang usianya sepadan atau lebih muda contohnya dari kakak pertama ke adik ke dua puluh tujuh; KRAMA MADYA (dibaca "kromo madyo") untuk kelas tengah, orang yang dihormati oleh pembicara namun ada interaksi yang dekat dan akrab, dan KRAMA HINGGIL (dibaca "kromo inggil" ) umumnya digunakan pada tulisan-tulisan sastrawi, komunikasi "khusus" di keraton - keraton Jawa dan oleh pembicara yang muda usia kepada yang lebih tua usianya dan dihormati.
Khusus tentang Bahasa Jawa Kromo Hinggil, ia mendapat apresiasi oleh seorang pakar bahasa Jawa Kuno dari Belanda bernama Petrus Josephus Zoetmulder S.J. Menurut sarjana dari Universitas Utrecht yang lahir pada 29 Januari 1906 dan tutup usia pada 8 Juli 1995 itu, bahasa Jawa Kromo Inggil yang halus itu adalah bahasa yang paling mengena ketika digunakan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Agung Sang Pencipta Semesta.

Nah, oleh karena saya memahami dengan benar bahwa Bahasa Jawa memiliki UNDAK USUK atau UNGGAH - UNGGUH berupa adat sopan santun, tata krama, tata susila dalam menggunakan Bahasa Jawa, maka saya agak merasa heran dengan kacaunya undak usuk Bahasa Jawa yang digunakan oleh facebook.

Contohnya seperti pada foto yang saya screen shoot berikut ini.
Di mana di dalam foto ini ada 2 kalimat yang membuat kening saya berkerut yakni 1) kalimat pertama yang saya garis bawahi dengan garis merah di mana di sana tertulis "Sepurane, kaca iki ora kasedian" yang artinya "Maafkanlah, halaman ini tidak tersedia". Secara kata - kata dan susunan kalimat, kalimat pertama ini tidak ada masalah. Namun undak - usuknya TIDAK DIPAKAI atau bertabrakan dengan kalimat ke 2 yang saya beri garis bawah warna kuning. Di kalimat kedua tertulis "Sesambungan ingkang panjenengan ndherek' aken menawi rusak, utawi kacanipun sampun dibusak" yang artinya "link yang anda ikuti mungkin rusak, atau halamannya sudah dihapus". Juga tidak ada hal - hal yang salah dalam pemakaian kata maupun susunan kata di kalimat kedua.

Namun, jika dilihat secara keseluruhan, antara kalimat pertama yang bergaris bawah merah dengan kalimat kedua yang bergaris bawah kuning, terdapat perbedaan strata yakni kalimat pertama menggunakan strata NGAKA (dibaca ngoko) dan kalimat kedua termasuk kepada strata MADYA (dibaca madyo). Mungkin ini karena ketidaktahuan tim perumus Bahasa Jawa untuk digunakan dalam ber-facebook.

Seharusnya, jika facebook sudah menetapkan Bahasa Jawa sebagai salah satu pilihan dalam ber facebook, maka sebaiknya mereka pun merumuskan untuk menentukan pilihan strata mana yang akan digunakan dalam Bahasa Jawa - Facebook ini. Apakah memakai strata NGAKA, KRAMA MADYA atau justru KRAMA HINGGIL agar dari mulai "home" sampai "edit" serta seluruh instruksi yang digunakan untuk mengoperasikan facebook, menggunakan Bahasa Jawa dengan strata yang sama.Jadi kondisi yang terjadi pada Foto 2, akan tertulis "Nyuwun Agunging Pangapunten, kaca menika mboten kasedian" sebagai kalimat pertama agar sesuai dengan kalimat kedua nya yang berstrata sama. Atau, kalimat kedua diganti dengan "Sesambungan sing mbok peloni wis rusak, utowo kacane wis dibusak" agar sesuai dengan kalimat pertama yang berbunyi "Sepurane, kaca iki ora kasedian".

Walau demikian, sebagai anak Bangsa Indonesia yang terlahir dari wanita ningrat Jawa dan memiliki suami orang Jawa, saya merasa bangga ketika Bahasa Jawa masuk ke dalam salah satu bahasa "operasional" dalam ber-facebook di tengah keprihatinan saya melihat banyaknya anak - anak dan orang - orang generasi sekarang yang walau mereka berdarah Jawa, namun mereka lebih pandai ber "cyiiiiiiiiiiiiiin, nepsong, eikehbeibeh, broooowwww, yoiiii cooooooy" ria dan tidak mampu sama sekali berbahasa Jawa seperti leluhurnya. 

Penulis:

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top