WMN 2015 -- Yogyakarta (03/02), Era digital saat ini telah merambah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam industri pertelevisian. Di sisi lain lembaga penyiaran (radio) merupakan media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal di masyarakat, memiliki kebebasan dan tanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, serta perekat sosial.
Hal ini yang menggerakkan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah menggelar forum diskusi terkait pengembangan rumah produksi TV Digital dan Radio Komunitas Muhammadiyah di Kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jalan Kapas, Yogyakarta, Sabtu (31/1).
Menurut Ketua MPI PP Muhammadiyah, Muchlas MT , kehadiran MPI sebagai unsur pembantu pimpinan Muhammadiyah setelah melawati perjalanan panjang terkait media Muhammadiyah yang diusulkan pada Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh tahun 1995, hingga pada Muktamar Muhammadiyah terakhir di Yogyakarta, kemudian MPI mulai dimaksimalkan. “FGD ini dalam rangka menghasilkan gagasan dan masukan-masukan dalam media dakwah Muhammadiyah, masukan-masukan tersebut nanti akan diolah menjadi sebuah buku panduan untuk PWM dan PDM se-Indonesia pada saat Muktamar Muhammadiyah di Makassar nanti,” ungkap Wakil Rektor 1 UAD ini. FGD ini dibuka langsung oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, serta diikuti oleh para praktisi dan pakar pertelevisian Indonesia, seperti ADiTV, TV Muhammadiyah, beberapa TV Nasional dan Lokal, praktisi dan pakar broadcasting dari radio-radio komunitas muhammadiyah se Pulau Jawa, radio komersial di sekitar Yogyakarta dan Surakarta.
Diskusi yang terbatas ini tentunya akan memberikan inspirasi dalam produksi buku panduan pendirian dan pengelolaan TV Digital dan Radio Komunitas Muhammadiyah. (wmn/muhammadiyah.or.id)
Menurut Ketua MPI PP Muhammadiyah, Muchlas MT , kehadiran MPI sebagai unsur pembantu pimpinan Muhammadiyah setelah melawati perjalanan panjang terkait media Muhammadiyah yang diusulkan pada Muktamar Muhammadiyah di Banda Aceh tahun 1995, hingga pada Muktamar Muhammadiyah terakhir di Yogyakarta, kemudian MPI mulai dimaksimalkan. “FGD ini dalam rangka menghasilkan gagasan dan masukan-masukan dalam media dakwah Muhammadiyah, masukan-masukan tersebut nanti akan diolah menjadi sebuah buku panduan untuk PWM dan PDM se-Indonesia pada saat Muktamar Muhammadiyah di Makassar nanti,” ungkap Wakil Rektor 1 UAD ini. FGD ini dibuka langsung oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, serta diikuti oleh para praktisi dan pakar pertelevisian Indonesia, seperti ADiTV, TV Muhammadiyah, beberapa TV Nasional dan Lokal, praktisi dan pakar broadcasting dari radio-radio komunitas muhammadiyah se Pulau Jawa, radio komersial di sekitar Yogyakarta dan Surakarta.
Diskusi yang terbatas ini tentunya akan memberikan inspirasi dalam produksi buku panduan pendirian dan pengelolaan TV Digital dan Radio Komunitas Muhammadiyah. (wmn/muhammadiyah.or.id)
Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.