mentarinews.co.id -- Ada sebuah postingan yang cukup menggelitik di grup MGIB yang dikirim oleh Mas Tarom. Postingan tersebut berisi percakapan beliau dengan seorang guru kemuhammadiyahan melalui message fb.
Isi message tersebut berkenaan dengan sikap guru yang menganggap bahwa mencetak kader Muhammadiyah adalah sebuah kesalahan. Dia menganggap seharusnya kita tidak mencetak kader Muhammadiyah, tapi mencetak kader dakwah Islam. Lebih lanjut dia menuduh orang2 yang mencetak kader persyarikatan menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru.
Sekilas pernyataan tersebut memang indah, namun kalau tidak dibaca secara lebih kritis, maka hal ini akan menjadi upaya penggembosan Muhammadiyah dari dalam. Pernyataan tersebut wajar-wajar saja kalau dikeluarkan oleh orang di luar institusi Muhammadiyah yang kurang suka terhadap Muhammadiyah. Namun menjadi sangat ironis manakala yang mengatakannya adalah yang setiap bulan memakan gaji yang diberikan Amal Usaha Muhammadiyah. Alih-alih bersyukur dan berterimakasih karena bisa mencari nafkah di AUM, namun yang terjadi malah menggunting dalam lipatan.
Loyal Terhadap Muhammadiyah Salahkah?
Sebagai kader Muhammadiyah tentu kita mempunyai komitmen terhadap Muhammadiyah. Komitmen ini bisa berbentuk hitam di atas putih. Misalnya kita bisa membaca surat keputusan dimana pimpinan Muhammadiyah yang ditunjuk sebagai pengurus Muhammadiyah atau AUM. Bisa juga komitmen berupa saat kita menjadi anggota Muhammadiyah baik yang mempunyai KTA maupun tidak. Komitmen ini adalah bagian dari hablun minannaas yang berdosa kalau dilanggar. Namun seringkali komitmen terhadap Muhammadiyah dikhianati, mengapa?
Jawabannya karena tidak adanya loyalitas. Loyalitas terhadap Muhammadiyah mutlak diperlukan agar komitmen tetap terjaga. Loyalitas berarti kesetiaan terhadap komitmen. Sejak SMP saya sudah mulai aktif di ortom dan sampai sekarang saya masih tetap aktif. Mengapa tetap bisa bertahan? Karena saya punya loyalitas terhadap Muhammadiyah sehingga saya tetap menjaga komitmen saya.
Anehnya, kadang orang yang loyal dan komit terhadap persyarikatan malah dituduh fanatik. "Halah, lo fanatik banget sih sama Muhammadiyah! Mending gue ga ikut organisasi apa2, pokoknya Islam!". "Eh, lo setiap hari ikut pengajian Muhammadiyah, fanatik tuh jangan sama Muhammadiyah! tapi sama Islam!" Atau ada yang menganggap saat kita loyal terhadap Muhammadiyah maka kita termasuk golongan yang hizbiyyun. Benarkah tuduhan-tuduhan tersebut?
Ada sesat pikir yang terjadi pada tuduhan-tuduhan di atas, yakni menganggap seolah-olah Muhammadiyah bertentangan dengan Islam. Coba perhatikan, melarang fanatik Muhammadiyah, namun menyuruh fanatik terhadap Islam. Padahal kan Muhammadiyah Islam juga, sumbernya al Quran dan Sunnah, Rukun Iman dan Islamnya sama. Jadi melarang berMuhammadiyah berarti melarang berIslam, karena Muhammadiyah juga Islam gitu lho. Jadi jangan takut dibilang fanatik terhadap Muhammadiyah saat kita memutuskan loyal kepada persyarikatan, toh berMuhammadiyah berarti berIslam juga.
Memang kalau kita telaah lebih dalam, mereka menganggap dengan kita loyal terhadap Muhammadiyah, berarti kita hanya loyal terhadap golongan Islam. bukan Islam secara keseluruhan. Masalahnya adalah kita luput membedakan antara Islam sebagai diin dengan Islam sebagai pemahaman (fiqh). Islam sebagai diin ya satu, tidak akan bisa dibagi-bagi. Namun Islam sebagai pemahaman (fiqh) selamanya tidak akan satu, namun akan beragam. Muhammadiyah adalah salah satu produk upaya pemahaman terhadap Islam. Begitupun pemahaman lain juga salah satu produk pemahaman terhadap Islam, bukan Islam itu sendiri.
Produk-produk pemahaman terhadap Islam ada yang bercorak tradisionalis seperti NU dan jamaah tabligh, bercorak puritanis seperti salafi, bercorak revivalis seperti ikhwanul muslimin dan hizbut tahrir, bercorak revolusioner seperti alqaidah dan ISIS, bercorak puritanis-modernis seperti Muhammadiyah, bercorak liberalis seperti JIL dll. Terkadang produk pemahaman ini berebut klaim siapa yang paling islami di antara mereka, terkadang juga saling toleransi atau tasamuh.
Coba kita kembali ke kasus di atas, guru kemuhammadiyahan itu bilang kalau dia tidak mendidik para murid menjadi kader Muhammadiyah, tapi jadi kader dakwah Islam. Permasalahannya yang dia maksud kader dakwah Islam itu Islam corak mana gitu lho? Bohong kalau yang dimaksud Islam oleh dia diluar dari pemahaman yang saya sebutkan di atas. Walau dia bilang dakwah Islam, tapi guru ini pasti punya afiliasi corak Islam tertentu, hanya dia menggunakan kata "islam" seolah2 netral, padahal tidak. Lalu dia dengan mudah menuduh kader Muhammadiyah menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru. Kelihatan sekali bahwa lagu sang surya pun dia tidak hafal. Dalam lagu sang surya jelas disebutkan "Al Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku". Coba cari saja satu teks dalam lagu itu yang menyatakan Muhammadiyah agamaku. Gak bakal ketemu.
Kalau dia menuduh kita menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru karena kita patuh pada putusan tarjih, berarti dia lupa bahwa PKS pun punya himpunan fatwa dewan syariah yang harus dipatuhi kadernya. NU punya keputusan bahtsul masaail yang harus ditaati kadernya. Jamaah tabligh punya kita fadhail amal yang jadi pegangan kadernya. Lantas apakah berarti pks, nu dan jamaah tabligh juga agama baru? Kalau mau adil sih jangan Muhammadiyah saja yang dibilang agama baru, tapi semua yang punya panduan ibadah ya sebut saja agama baru.
Sebenarnya ada gak sih orang yang benar-benar netral dalam berIslam? Saya yakinkan tidak ada. Walaupun seseorang tidak ikut organisasi apapun dalam islam, dan bergaul dengan semua kalangan Islam, tapi pasti tetap dia punya kecenderungan corak tertentu dalam berIslam.
Isi message tersebut berkenaan dengan sikap guru yang menganggap bahwa mencetak kader Muhammadiyah adalah sebuah kesalahan. Dia menganggap seharusnya kita tidak mencetak kader Muhammadiyah, tapi mencetak kader dakwah Islam. Lebih lanjut dia menuduh orang2 yang mencetak kader persyarikatan menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru.
Sekilas pernyataan tersebut memang indah, namun kalau tidak dibaca secara lebih kritis, maka hal ini akan menjadi upaya penggembosan Muhammadiyah dari dalam. Pernyataan tersebut wajar-wajar saja kalau dikeluarkan oleh orang di luar institusi Muhammadiyah yang kurang suka terhadap Muhammadiyah. Namun menjadi sangat ironis manakala yang mengatakannya adalah yang setiap bulan memakan gaji yang diberikan Amal Usaha Muhammadiyah. Alih-alih bersyukur dan berterimakasih karena bisa mencari nafkah di AUM, namun yang terjadi malah menggunting dalam lipatan.
Loyal Terhadap Muhammadiyah Salahkah?
Sebagai kader Muhammadiyah tentu kita mempunyai komitmen terhadap Muhammadiyah. Komitmen ini bisa berbentuk hitam di atas putih. Misalnya kita bisa membaca surat keputusan dimana pimpinan Muhammadiyah yang ditunjuk sebagai pengurus Muhammadiyah atau AUM. Bisa juga komitmen berupa saat kita menjadi anggota Muhammadiyah baik yang mempunyai KTA maupun tidak. Komitmen ini adalah bagian dari hablun minannaas yang berdosa kalau dilanggar. Namun seringkali komitmen terhadap Muhammadiyah dikhianati, mengapa?
Jawabannya karena tidak adanya loyalitas. Loyalitas terhadap Muhammadiyah mutlak diperlukan agar komitmen tetap terjaga. Loyalitas berarti kesetiaan terhadap komitmen. Sejak SMP saya sudah mulai aktif di ortom dan sampai sekarang saya masih tetap aktif. Mengapa tetap bisa bertahan? Karena saya punya loyalitas terhadap Muhammadiyah sehingga saya tetap menjaga komitmen saya.
Anehnya, kadang orang yang loyal dan komit terhadap persyarikatan malah dituduh fanatik. "Halah, lo fanatik banget sih sama Muhammadiyah! Mending gue ga ikut organisasi apa2, pokoknya Islam!". "Eh, lo setiap hari ikut pengajian Muhammadiyah, fanatik tuh jangan sama Muhammadiyah! tapi sama Islam!" Atau ada yang menganggap saat kita loyal terhadap Muhammadiyah maka kita termasuk golongan yang hizbiyyun. Benarkah tuduhan-tuduhan tersebut?
Ada sesat pikir yang terjadi pada tuduhan-tuduhan di atas, yakni menganggap seolah-olah Muhammadiyah bertentangan dengan Islam. Coba perhatikan, melarang fanatik Muhammadiyah, namun menyuruh fanatik terhadap Islam. Padahal kan Muhammadiyah Islam juga, sumbernya al Quran dan Sunnah, Rukun Iman dan Islamnya sama. Jadi melarang berMuhammadiyah berarti melarang berIslam, karena Muhammadiyah juga Islam gitu lho. Jadi jangan takut dibilang fanatik terhadap Muhammadiyah saat kita memutuskan loyal kepada persyarikatan, toh berMuhammadiyah berarti berIslam juga.
Memang kalau kita telaah lebih dalam, mereka menganggap dengan kita loyal terhadap Muhammadiyah, berarti kita hanya loyal terhadap golongan Islam. bukan Islam secara keseluruhan. Masalahnya adalah kita luput membedakan antara Islam sebagai diin dengan Islam sebagai pemahaman (fiqh). Islam sebagai diin ya satu, tidak akan bisa dibagi-bagi. Namun Islam sebagai pemahaman (fiqh) selamanya tidak akan satu, namun akan beragam. Muhammadiyah adalah salah satu produk upaya pemahaman terhadap Islam. Begitupun pemahaman lain juga salah satu produk pemahaman terhadap Islam, bukan Islam itu sendiri.
Produk-produk pemahaman terhadap Islam ada yang bercorak tradisionalis seperti NU dan jamaah tabligh, bercorak puritanis seperti salafi, bercorak revivalis seperti ikhwanul muslimin dan hizbut tahrir, bercorak revolusioner seperti alqaidah dan ISIS, bercorak puritanis-modernis seperti Muhammadiyah, bercorak liberalis seperti JIL dll. Terkadang produk pemahaman ini berebut klaim siapa yang paling islami di antara mereka, terkadang juga saling toleransi atau tasamuh.
Coba kita kembali ke kasus di atas, guru kemuhammadiyahan itu bilang kalau dia tidak mendidik para murid menjadi kader Muhammadiyah, tapi jadi kader dakwah Islam. Permasalahannya yang dia maksud kader dakwah Islam itu Islam corak mana gitu lho? Bohong kalau yang dimaksud Islam oleh dia diluar dari pemahaman yang saya sebutkan di atas. Walau dia bilang dakwah Islam, tapi guru ini pasti punya afiliasi corak Islam tertentu, hanya dia menggunakan kata "islam" seolah2 netral, padahal tidak. Lalu dia dengan mudah menuduh kader Muhammadiyah menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru. Kelihatan sekali bahwa lagu sang surya pun dia tidak hafal. Dalam lagu sang surya jelas disebutkan "Al Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku". Coba cari saja satu teks dalam lagu itu yang menyatakan Muhammadiyah agamaku. Gak bakal ketemu.
Kalau dia menuduh kita menjadikan Muhammadiyah sebagai agama baru karena kita patuh pada putusan tarjih, berarti dia lupa bahwa PKS pun punya himpunan fatwa dewan syariah yang harus dipatuhi kadernya. NU punya keputusan bahtsul masaail yang harus ditaati kadernya. Jamaah tabligh punya kita fadhail amal yang jadi pegangan kadernya. Lantas apakah berarti pks, nu dan jamaah tabligh juga agama baru? Kalau mau adil sih jangan Muhammadiyah saja yang dibilang agama baru, tapi semua yang punya panduan ibadah ya sebut saja agama baru.
Sebenarnya ada gak sih orang yang benar-benar netral dalam berIslam? Saya yakinkan tidak ada. Walaupun seseorang tidak ikut organisasi apapun dalam islam, dan bergaul dengan semua kalangan Islam, tapi pasti tetap dia punya kecenderungan corak tertentu dalam berIslam.
Penulis:
Robby Karman di Grup Muhammadiyah


Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.