0
WMN 2015 -- Kemarin (Sabtu, 2 Mei 2015) saya diundang sbg narasumber dalam diskusi menyatukan visi dan kunjungan Menag ke PP Muhammadiyah di Yogya. Topiknya: "Penyatuan Kalender Islam". Hadir dari Depag adl Menteri Lukman Hakim, Dirjen Bimas Islam dan jajarannya. Sebagai tuan rumah hadir Ketua Umum Dien Syamsuddin dan para ketua PP Muhammadiyah.

Maka didiskusikanlah dalil2 syar'i (hadis) yg terkait dg penetapan asal bulan Islam. Dari diskusi itu, saya semakin memahami mengapa Muhammadiyah sangat kukuh dengan penggunaan metoda hisab meskipun ini sering berseberangan dengan pemerintah yang lebih menganut metoda rukyat. Secara singkat hadis-hadis awal bulan Islam saya simpulkan sebagai berikut
  1. Hadis dengan perawi Ibnu Umar yg teksnya kira2 berbunyi: "jika hilal tak kelihatan maka hitunglah (faqdurulahu) atau hisablah. Ada juga yg teksnya berartri kira2: "namun kami adl kaum ummi yg tdk pandai menulis dan menghitung".
  2. Hadis2 dengan perawi Ibnu Abbas dan Abu Hurairah yang kecenderungannya: "jika hilal tak kelihatan, maka genapkanlah (isti'mal).
  3. Hadis2 di atas memang termasuk hadis sahih.
Ibnu Umar adl sahabat yg selalu mendampingi Nabi sejak di Mekah dan ikut hijrah dan terus mendampingi Nabi di Madinah. Itulah sebabnya, kesaksian Ibnu Umar sami'tu (saya mendengar) selalu merupakan kutipan langsung dari ucapan Nabi. Sementara Ibnu Abbas masih berumur 3 tahun ketika Rasul hijrah dan tidak ikut hijrah. Ketika perintah saum turun pada tahun 2 hijrah, Ibnu Abbas baru berumur 4 tahun. Sementara Abu Hurairah baru masuk Islam pada tahun 7H (3 tahun sebelum Rasul wafat). Dg demikian, kesaksian "sami'tu" Ibn Abbas dan Abu Hurairah tdk pernah bersumber langsung dari Nabi meskipun hadis2 tsb masuk sebagai hadis sahih. Atas status hadis itulah maka Muhammadiyah lebih berat menyandarkan keputusan pemilihan metoda hisab unt penentuan asal bulan Islam (terutama Ramadan, Syawwal dan Dzulhijjah).

Sebagai peneliti, sy menyampaikan fakta akademis sesuai penelitian sy sejak 2006, bahwa kalender Islam hanya mungkin terbentuk melalui hisab. Sy tunjukkan juga kesalahan berfikir para astronom pendukung imkan rukyat yg saya tuliskan dalam sebuah buku setebal 245 halaman berjudul "Pseudo Shariah Economy...". Sy memberikan masing2 satu copy buku pada Menteri Agama dan Ketum PP Muhammadiyah. Saya berharap Muhammadiyah terus melibatkan saya dalam rangkaian diskusi tentang Kalender Islam. Sy banyak sekali memperoleh pelajaran yg sangat tak ternilai harganya dari serangkaian diskusi ini. Semoga semuanya memperoleh barakah Allah SWT.

Ditulis oleh:
Tono Saksono (Seorang Peneliti)

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top