WMN 2015 -- "Imsak” berkaitan dengan Ramadhan dalam ilmu fiqih, bermakna menghentikan kegiatan yang dapat membatalkan ibadah puasa, dan menjadi tanda dimulainya “puasa”. Imsak dalam pandangan fiqih merupakan bagian dari waktu kapan berhentinya kegiatan yang dapat membatalkan puasa, biasanya dilakukan umat Islam 15 menit atau 10 menit sebelum subuh.
Tentu merupakan anggapan fiqih yang kurang benar. Tetapi Islam memang tidak terlepas dari waktu, terutama kaintannya dengan Imsak, adalah waktu atau saat yang dibuat ulama berdasarkan kekhawatiran saja, bukan berdasarkan dalil syar’i.
Keraguan pada waktu masuknya puasa menjadi standar fiqih untuk menghentikan makan, sedangkan sebelumnya tidak pernah terjadi dijaman “Nabi Muhammad“ shallallahu’alaihi wasallam.
Tepatnya kata “Imsak” memang perlu ditinjau ulang, apalagi misalnya memasukkan “Imsak” bagian dari jadwal dimulainya puasa, hal itu justru lebih tidak sunah lagi atau melanggar hukum sunah itu sendiri. Dalam hal ini perlu tinjauan Syar’i sebagai berikut :
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.
Pada ayat itu dapat dibaca dengan jelas, bahwa fajar subuh atau sholat subuh adalah batas akhir sahur, dan tidak ada satupun keterangan kalau Fajar itu sebagai masa Imsak, 15 menit sebelum adzan subuh. Justru merupakan sebuah kesalahan besar dan bertentangan dengan sunnah mengamalkan sebauah amalan “Imsak” yang tidak pernah ada dijaman Nabi. benar benar sebagai perbuatan Bid’ah yang bertentangan dengan sunnah Nabi kebiasaan yang merebak di masyarakat, menghentikan sahur 15 menit sebelum Adzan
Ini adalah dalil dalil bahwa tidak ada Imsak sebagaimana yang ditradisikan di tengah masyarakat Islam, atau sebagai kebiasaan “Imsak” yang salah kaprah yang tidak sesuai dengan tuntunan Sunah, bahkan justru memaksakan diri dengan Syariat yang mengada-ada.
Dalil satu [1] : Dari Al-Imaam Abu Daawud rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ “
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa bin Hammaad, dari Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2350].
Dalil dua [2] Dari Ibnu Abi Haatimrahimahullah:
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ “. قُلْت لأَبِي: وَرَوَى رَوْحٌ أَيْضًا عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ، وَزَادَ فِيهِ: ” وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ “. قَالَ أَبِي: هَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَيْسَا بِصَحِيحَيْنِ، أَمَّا حَدِيثُ عَمَّارٍ فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفٌ، وَعَمَّارٌ ثِقَةٌ، وَالْحَدِيثُ الآخَرُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ
Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits Rauh bin ‘Ubaadah, dari Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)’. Aku berkata kepada ayahku : “Dan Rauh juga meriwayatkan dari Hammaad, dari ‘Ammaar bin Abi ‘Ammaar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisalnya, dan terdapat tambahan padanya : ‘Dan muadzdzin mengumandangkan adzan apabila fajar telah terbit”. Ayahku berkata : “Kedua hadits ini tidak shahih. Adapun hadits ‘Ammaar, maka ia berasal dari Abu Hurairah secara mauquuf, dan ‘Ammaar adalah seorang yangtsiqah. Sedangkan hadits yang lain, tidaklah shahih” [Al-‘Ilal, 2/235-236 no. 240. Juga pada 2/137-138 no. 759].
Dalil Tiga [3]
وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “.
Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Anas bin ‘Iyaadl Al-Laitsiy, dari Muusaa bin ‘Uqbah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila kalian sedang makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan hajatnya, meskipun shalat telah ditegakkan (iqaamah)”[Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 1986; shahih].
Dalil Empat [4] dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَأَبُو السَّائِبِ، قَالا: ثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ حُذَيْفَةَ إِلَى الْمَدَائِنِ فِي رَمَضَانَ، فَلَمَّا طَلَعَ الْفَجْرُ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ آكِلٍ، أَوْ شَارِبٍ؟ قُلْنَا: أَمَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُومَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي، قَالَ: ثُمَّ سِرْنَا حَتَّى اسْتَبْطَأْنَا الصَّلاةَ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يُرِيدُ أنْ يَتَسَحَّرَ؟ قَالَ: قُلْنَا أَمَّا مَنْ يُرِيدُ الصَّوْمَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي ! ثُمَّ نَزَلَ فَتَسَحَّرَ، ثُمَّ صَلَّى “
Telah menceritakan kepada kami Hannaad dan Abus-Saaib, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibraahiim At-Taimiy, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah keluar safar bersama Hudzaifah ke negeri Madaain pada bulan Ramadlaan. Ketika fajar terbit, ia berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak makan atau minum ?”. Kami menjawab : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku (akan makan dan minum)”. Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga melambatkan shalat. Hudzaifah kembali berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak sahur ?”. Kami berkata : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku mau makan sahur”. Kemudian ia berhenti dan makan sahur, lalu melaksanakan shalat” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 3/518 no. 2999].
Dalil Kelima [5] dari Ibraahiim:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: رُبَّمَا شَرِبْتُ بَعْدَ قَوْلِ الْمُؤَذِّنِ يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاةُ.قَالَ: وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَفْعَلَ لَهُ مِنَ الأَعْمَشِ، وَذَلِكَ لَمَّا سَمِعَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ…..
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : “Kadang-kadang aku minum – dalam bulan Ramadlaan – setelah muadzdzin berkata : qad qaamatish-shalaah”. Ia (Abu Bakr) berkata : “Dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang melakukannya kecuali Al-A’masy. Hal tersebut disebabkan ketika ia mendengar (riwayat)
Dalil Keenam [6] dari Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ جَبَلَةَ بْنِ سُحَيْمٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ مَطَرٍ، قَالَ: ” أَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ فِي دَارِهِ فَأَخْرَجَ لَنَا فَضْلَ سُحُورِهِ فَتَسَحَّرْنَا مَعَهُ فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَخَرَجْنَا فَصَلَّيْنَا مَعَهُ “
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Asy-Syaibaaniy, dari Jabalah bin Suhaim, dari ‘Aamir bin Mathar, ia berkata : “Aku mendatangi ‘Abdullah di rumahnya, lalu ia menyuguhi kami kelebihan makan sahurnya, lalu kami pun sahur bersamanya. Setelah itu shalat diiqamati, maka kami pun keluar dan shalat bersamanya” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 3/10 no. 9024]
Semua hadits tersebut berbicara bahwa Dijamana Rasulullah mengakhirkan sahur waktu Iqamah itu adalah biasa. Tidak terdapat batasan sebagaimana sekarang, membatasi sahur tidak pada tempatnya, bahkan sangat bertentangan dengan syariat Islam. Sahur yang lebih utama adalah sahur saat saat menjelang adzan subuh, bila bisa dilakukan oleh kita maka itu yang terbaik menurut sunah Nabi, tentunya dengan tidak mengikuti kebiasaan sekarang yang tanpa tuntunan , hanya kebijakan kebijakan yang salah dari pikiran kita. Karena hanya ingin menghindar dari keraguan, lalu menciptakan aturan yang salah dalam Islam.
Untuk lebih meyakinkan kita ada atsar yang menyatakan:
حَدَّثَنَا حَكَّامٌ عَنِ ابْنِ أَبِي جَعْفَرٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ : السَّحُورُ وَالْوَتَرُ مَا بَيْنَ التَّثْوِيبِ وَالْإِقَامَةِ
“Sahur dan witir itu diantara tasywib dan Iqamah”
Disebutkan pada tempat lain sebagai berikut :
هُوَ الصُّبْحُ إِلَّا أَنَّهُ لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ .
“Waktu fajar itu adalah Pagi, hanya saja matahari belum terbit”
Jadi “sahur” itu tidak dibatas pada dengan 15 menit sebelum adzan seperti pada umumnya kebiasaan masyarakat yang salah kaprah. (wmn/men)
Tepatnya kata “Imsak” memang perlu ditinjau ulang, apalagi misalnya memasukkan “Imsak” bagian dari jadwal dimulainya puasa, hal itu justru lebih tidak sunah lagi atau melanggar hukum sunah itu sendiri. Dalam hal ini perlu tinjauan Syar’i sebagai berikut :
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.
Pada ayat itu dapat dibaca dengan jelas, bahwa fajar subuh atau sholat subuh adalah batas akhir sahur, dan tidak ada satupun keterangan kalau Fajar itu sebagai masa Imsak, 15 menit sebelum adzan subuh. Justru merupakan sebuah kesalahan besar dan bertentangan dengan sunnah mengamalkan sebauah amalan “Imsak” yang tidak pernah ada dijaman Nabi. benar benar sebagai perbuatan Bid’ah yang bertentangan dengan sunnah Nabi kebiasaan yang merebak di masyarakat, menghentikan sahur 15 menit sebelum Adzan
Ini adalah dalil dalil bahwa tidak ada Imsak sebagaimana yang ditradisikan di tengah masyarakat Islam, atau sebagai kebiasaan “Imsak” yang salah kaprah yang tidak sesuai dengan tuntunan Sunah, bahkan justru memaksakan diri dengan Syariat yang mengada-ada.
Dalil satu [1] : Dari Al-Imaam Abu Daawud rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ “
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa bin Hammaad, dari Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2350].
Dalil dua [2] Dari Ibnu Abi Haatimrahimahullah:
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ “. قُلْت لأَبِي: وَرَوَى رَوْحٌ أَيْضًا عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ، وَزَادَ فِيهِ: ” وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ “. قَالَ أَبِي: هَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَيْسَا بِصَحِيحَيْنِ، أَمَّا حَدِيثُ عَمَّارٍ فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَوْقُوفٌ، وَعَمَّارٌ ثِقَةٌ، وَالْحَدِيثُ الآخَرُ لَيْسَ بِصَحِيحٍ
Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits Rauh bin ‘Ubaadah, dari Hammaad, dari Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)’. Aku berkata kepada ayahku : “Dan Rauh juga meriwayatkan dari Hammaad, dari ‘Ammaar bin Abi ‘Ammaar, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam semisalnya, dan terdapat tambahan padanya : ‘Dan muadzdzin mengumandangkan adzan apabila fajar telah terbit”. Ayahku berkata : “Kedua hadits ini tidak shahih. Adapun hadits ‘Ammaar, maka ia berasal dari Abu Hurairah secara mauquuf, dan ‘Ammaar adalah seorang yangtsiqah. Sedangkan hadits yang lain, tidaklah shahih” [Al-‘Ilal, 2/235-236 no. 240. Juga pada 2/137-138 no. 759].
Dalil Tiga [3]
وَحَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ عَلَى الطَّعَامِ، فَلا يَعْجَلْ عَنْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ وَإِنْ أُقِيمَتِ الصَّلاةُ “.
Telah menceritakan kepada kami Yuunus bin ‘Abdil-A’laa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Anas bin ‘Iyaadl Al-Laitsiy, dari Muusaa bin ‘Uqbah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Apabila kalian sedang makan, maka janganlah tergesa-gesa hingga ia menyelesaikan hajatnya, meskipun shalat telah ditegakkan (iqaamah)”[Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 1986; shahih].
Dalil Empat [4] dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu:
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَأَبُو السَّائِبِ، قَالا: ثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ حُذَيْفَةَ إِلَى الْمَدَائِنِ فِي رَمَضَانَ، فَلَمَّا طَلَعَ الْفَجْرُ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ آكِلٍ، أَوْ شَارِبٍ؟ قُلْنَا: أَمَّا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَصُومَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي، قَالَ: ثُمَّ سِرْنَا حَتَّى اسْتَبْطَأْنَا الصَّلاةَ، قَالَ: هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يُرِيدُ أنْ يَتَسَحَّرَ؟ قَالَ: قُلْنَا أَمَّا مَنْ يُرِيدُ الصَّوْمَ فَلا. قَالَ: لَكِنِّي ! ثُمَّ نَزَلَ فَتَسَحَّرَ، ثُمَّ صَلَّى “
Telah menceritakan kepada kami Hannaad dan Abus-Saaib, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Ibraahiim At-Taimiy, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah keluar safar bersama Hudzaifah ke negeri Madaain pada bulan Ramadlaan. Ketika fajar terbit, ia berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak makan atau minum ?”. Kami menjawab : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku (akan makan dan minum)”. Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga melambatkan shalat. Hudzaifah kembali berkata : “Apakah ada di antara kalian yang hendak sahur ?”. Kami berkata : “Adapun orang yang hendak berpuasa, maka tidak ada”. Ia berkata : “Akan tetapi aku mau makan sahur”. Kemudian ia berhenti dan makan sahur, lalu melaksanakan shalat” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Jaami’ul-Bayaan, 3/518 no. 2999].
Dalil Kelima [5] dari Ibraahiim:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: رُبَّمَا شَرِبْتُ بَعْدَ قَوْلِ الْمُؤَذِّنِ يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، قَدْ قَامَتِ الصَّلاةُ.قَالَ: وَمَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَفْعَلَ لَهُ مِنَ الأَعْمَشِ، وَذَلِكَ لَمَّا سَمِعَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ…..
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : “Kadang-kadang aku minum – dalam bulan Ramadlaan – setelah muadzdzin berkata : qad qaamatish-shalaah”. Ia (Abu Bakr) berkata : “Dan aku tidak pernah melihat seorang pun yang melakukannya kecuali Al-A’masy. Hal tersebut disebabkan ketika ia mendengar (riwayat)
Dalil Keenam [6] dari Ibnu Mas’uud radliyallaahu ‘anhu.
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ جَبَلَةَ بْنِ سُحَيْمٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ مَطَرٍ، قَالَ: ” أَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ فِي دَارِهِ فَأَخْرَجَ لَنَا فَضْلَ سُحُورِهِ فَتَسَحَّرْنَا مَعَهُ فَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَخَرَجْنَا فَصَلَّيْنَا مَعَهُ “
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’aawiyyah, dari Asy-Syaibaaniy, dari Jabalah bin Suhaim, dari ‘Aamir bin Mathar, ia berkata : “Aku mendatangi ‘Abdullah di rumahnya, lalu ia menyuguhi kami kelebihan makan sahurnya, lalu kami pun sahur bersamanya. Setelah itu shalat diiqamati, maka kami pun keluar dan shalat bersamanya” [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 3/10 no. 9024]
Semua hadits tersebut berbicara bahwa Dijamana Rasulullah mengakhirkan sahur waktu Iqamah itu adalah biasa. Tidak terdapat batasan sebagaimana sekarang, membatasi sahur tidak pada tempatnya, bahkan sangat bertentangan dengan syariat Islam. Sahur yang lebih utama adalah sahur saat saat menjelang adzan subuh, bila bisa dilakukan oleh kita maka itu yang terbaik menurut sunah Nabi, tentunya dengan tidak mengikuti kebiasaan sekarang yang tanpa tuntunan , hanya kebijakan kebijakan yang salah dari pikiran kita. Karena hanya ingin menghindar dari keraguan, lalu menciptakan aturan yang salah dalam Islam.
Untuk lebih meyakinkan kita ada atsar yang menyatakan:
حَدَّثَنَا حَكَّامٌ عَنِ ابْنِ أَبِي جَعْفَرٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ قَالَ : السَّحُورُ وَالْوَتَرُ مَا بَيْنَ التَّثْوِيبِ وَالْإِقَامَةِ
“Sahur dan witir itu diantara tasywib dan Iqamah”
Disebutkan pada tempat lain sebagai berikut :
هُوَ الصُّبْحُ إِلَّا أَنَّهُ لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ .
“Waktu fajar itu adalah Pagi, hanya saja matahari belum terbit”
Jadi “sahur” itu tidak dibatas pada dengan 15 menit sebelum adzan seperti pada umumnya kebiasaan masyarakat yang salah kaprah. (wmn/men)

Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.