0
WMN 2015 -- Sebagai organisasi massa berbasis Islam, Muhammadiyah telah menjalankan politik yang cukup cantik di era Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.


Muhammadiyah tetap menempatkan kadernya di pemerintahan, tetapi di sisi lain bersikap oposisi pada rezim Jokowi, termasuk mengkritik keras kebijakan Jokowi yang tidak berpihak kepada rakyat.

Penilaian itu disampaikan pengamat politik Ahmad Yazid dalam pernyataannya kepada intelijen (20/05). Menurut Yazid, sikap Muhammadiyah yang oposan telah ditunjukkan aktivis Ikatan Mahasiswa Mahasiswa (IMM) yang menolak undangan dialog dengan Presiden Jokowi. “Aktivis IMM menyerukan pelengseran Jokowi-JK. Ini menandakan kader Muhammadiyah kritis ke pemerintah. Padahal, pada saat yang sama Malik Fadjar yang juga tokoh Muhammadiyah, menjabat anggota Wantimpres,” ungkap Yazid.

Kata Yazid, politik yang dijalankan Muhammadiyah itu tidak lepas dari sikap politik Din Syamsuddin. “Din Syamsuddin itu dulunya politikus di Partai Golkar, makanya dia membawa Muhammadiyah ikut bermain politik dan main di dua kaki,” jelas Yazid. 

Yazid menilai cara politik Muhammadiyah itu akan membawa keuntungan bagi organisasi. “Di mata kader maupun rakyat Indonesia, Muhammadiyah itu sangat baik,” pungkas Yazid. (wmn/int)

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top