0
WMN 2015 -- Tahun 2014, Kabupaten Gunungkidul menyandang predikat kabupaten termiskin di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Gunungkidul mencapai 21,7% dari keseluruhan jumlah penduduk. 


Meski angka tersebut menurun bila dibanding jumlah kemiskinan pada tahun sebelumnya, yakni sebesar 22,71%, Gunungkidul masih dinilai kabupaten dengan tingkat pengangguran tertinggi di DIY.

Nilai PAD yang kecil dan jumlah pengangguran yang besar membuat Gunungkidul banyak mengandalkan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pusat. Malu disebut kabupaten termiskin, Gunungkidul pun membuka investasi. Sektor pariwisata menjadi andalan mereka.

Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat nilai investasi sektor pariwisata di wilayah ini mencapai Rp413 miliar dari total investasi sebesar Rp594 miliar hingga pertengahan Oktober. "Sejak tiga tahun terakhir, nilai investasi sektor pariwisata terus meningkat," kata Menurut Kepala Kantor Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (KPMPT) Gunungkidul Aziz Saleh di Gunungkidul, Selasa (24/11)

Aziz mengatakan investasi dalam bidang pariwisata masih terbuka lebar karena minimnya sarana dan prasarana pendukung pariwisata. Hal itu terlihat dari kajian masih minimnya wisatawan yang menginap di Gunungkidul. "Dari total pengunjung, tidak lebih dari 10 persen total wisawatan yang menginap di Gunung Kidul," tuturnya.

Selain produk wisata, investasi lainnya seperti peternakan, perikanan serta tas di wilayah Gunung Kidul. Nilai investasinya pun cukup besar, mencapai sekitar Rp180 miliar. Pihaknya terus mendorong investasi dalam sektor lain. Harapannya, investasi yang masuk akan membawa dampak positif bagi perekonomian. "Kami terus tawarkan kepada pengusaha untuk menanamkan investasinya di Gunung Kidul," ujarnya.

Bahkan, rencananya Pantai Baron yang menjadi salah satu obyek wisata andalan akan dijadikan Baron Technopark yang diharapkan menjadi rujukan teknologi energi terbarukan nasional. Penjabat Bupati Gunungkidul Budi Antono menuturkan, saat ini Baron Technopark masih dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT)."Kami sempat melakukan peninjauan kondisi terakhir Baron Technopark tersebut. Selama ini, kami belum melakukan pengelolaan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Gunungkidul Edi Susilo mendukung langkah pemkab untuk membuka investasi. Namun demikian budaya lokal harus tetap dijaga seiring pembangunan lokasi wisata. "Jangan sampai arah pembangunan malah menjadikan Gunungkidul keluar rel dari kebudayaan asli," katanya. Terkait rencana induk Baron Technopark, kata dia, sudah dibahas di tingkat pemda DIY. Ada tiga kawasan yang masuk dalam rencana induk. Hal ini juga sudah dikaitkan dengan rencana detail teknis (DED) ke depan mengenai pengembangan kawasan yang selesai dibangun 2021. (wmn/pro)

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top