WMN 2015 -- Berdasarkan penelitian Lemlit IAIN Antasari di tahun 2009, Muhammadiyah di Kalsel berdiri pertama di Alabio pada 1925, 13 tahun setelah berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta
Berdirinya Muhammadiyah di Alabio ini cukup menarik mengingat Alabio di Hulu Sungai bukanlah ‘pusat’ baik Kesultanan Banjar maupun pemerintahan Kolonial. Baru setelah berdiri di Alabio, Muhammadiyah kemudian menyebar ke Rantau (1937), Kandangan (1931), Martapura dan Banjarmasin (1932), Haruai (1934), dan Marabahan (1939).
Pertanyaannya, mengapa Muhammadiyah justru muncul pertama kali di Alabio, bukan Banjarmasin (pusat ‘perkotaan’ zaman Kolonial) atau Martapura (pusat pemerintahan Kerajaan Banjar)? Bisa jadi ada dua penjelasan di sini.
Pertama, Alabio merepresentasikan lahirnya kelas menengah muslim yang lepas dari pertarungan ‘Kesultanan’ dan ‘pemerintah Kolonial Belanda’. Kesultanan merepresentasikan kekuasaan ‘tradisional’ elite-elite lama, sementara pemerintah Kolonial Belanda menampilkan modernitas yang ‘sekuler’. Kemunculan Muhammadiyah di Alabio, dari sudut pandang ini, bisa dilihat sebagai respons kelas menengah muslim yang, di satu sisi, menolak cara beragama lama yang ditampilkan oleh ulama-ulama Kesultanan, namun di sisi lain juga tampil dengan kesalihannya serta menolak modernisasi pihak kolonial.
Kedua, soal pertukaran pengetahuan dan informasi. Alabio punya kultur dagang yang sangat kuat serta tradisi untuk merantau. Salah satu faktor pendorong kemunculan Muhammadiyah adalah sisi ini. Tradisi dagang memungkinkan adanya penyerapan ide-ide baru, termasuk salah satunya ide pembaharuan pemikiran Islam dari Yogyakarta.
Muhammadiyah di Kalsel dipelopori oleh H Jaferi dan H Usman Amin. H Jaferi adalah ‘intelektual’ Banjar, pernah belajar di Tanah Suci, dan kemudian mulai berkenalan dengan gerakan pembaharuan Islam setelah sering berdiskusi dengan H Usman Amin, ‘diaspora’ Banjar yang membangun usaha toko buku di Surabaya. Perkenalan ini, yang awalnya hanya berupa hubungan dagang dan persahabatan, membawa beliau pada Muhammadiyah di Yogyakarta. Tertarik dengan pemikiran KH Ahmad Dahlan, H Jaferi mulai membawa Muhammadiyah ke Kalsel dan menjadi anggota pertamanya.
Berdirinya Muhammadiyah di Alabio tentu membawa perdebatan hangat antara ‘kaum tuha’ dan ‘kaum muda’. Namun, segera, gagasan ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain. Berkembangnya Muhammadiyah ini kemudian dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan pada Banjarmasin untuk menjadi tuan rumah Muktamar pada tahun 1935. (bersambung)
Ditulis oleh:
Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
Mahasiswa Pascasarjana di University of Sheffield, UK, Warga Muhammadiyah di Inggris Raya

Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.