WMN 2015 -- Fenomena adanya kisah pelarian tokoh-tokoh Majapahit yang kemudian dianggap sebagai leluhur Gunungkidul menjadikan tradisi lisan di daerah ini makin kental. Terlepas hal tersebut benar atau tidak, terbukti atau tidak/belum terbukti, warga Gunungkidul memiliki ikatan emosional dan batin bahwa warga mempunyai hubungan darah dengan para tokoh Majapahit.
Tentu saja hal ini sedikit banyak berpengaruh bagi pembentukan identitas lokal warga Gunungkidul. Identitas tersebut juga melahirkan sikap mental warga yang (konon) dikenal sebagai orang yang ulet, tangguh dan keras.
Kisah 7 leluhur Gunungkidul diawali dari cerita Betoro Katong. Cerita ini berkembang dan dipercaya kebenarannya oleh penduduk yang tinggal di dusun Betoro Kidul dan Karangasem, Kecamatan Ponjong. Betoro Katong memiliki nama asli Jaka Umbaran, keturunan Brawijaya, Raja Majapahit. Dalam kisah babad, Majapahit diserang oleh tentara Islam dari Demak. Rakyat Majapahit akhirnya melarikan diri ke daerah pegunungan selatan.
Salah satu keturunan Betoro Katong adalah Mbah Bodo. Sejak Betoro Katong moksa, Mbah Bodo tinggal di dusun Betoro. Suatu ketika Mbah Bodo kedatangan tamu dari Bayat, Klaten yang bernama Mbah Sakrib. Mbak Sakrib meminta Mbah Bodo untuk memeluk agama Islam. Namun Mbah Bodo menolaknya dan ia pindah ke daerah Wonogiri, selanjutnya pindah lagi ke Manyaran. Pengikut Mbah Bodo yang pindah menjadi agama Islam banyak yang menikah dengan pengikut Mbah Sakrib dan beranak cucu di dusun Betoro Kidul.
Selain Betoro Katong yang melarikan diri ke pegunungan selatan, ada 7 tokoh lain yang juga menyebar di tiap desa. Ketujuh tokoh Majapahit tersebut adalah:
Salah satu keturunan Betoro Katong adalah Mbah Bodo. Sejak Betoro Katong moksa, Mbah Bodo tinggal di dusun Betoro. Suatu ketika Mbah Bodo kedatangan tamu dari Bayat, Klaten yang bernama Mbah Sakrib. Mbak Sakrib meminta Mbah Bodo untuk memeluk agama Islam. Namun Mbah Bodo menolaknya dan ia pindah ke daerah Wonogiri, selanjutnya pindah lagi ke Manyaran. Pengikut Mbah Bodo yang pindah menjadi agama Islam banyak yang menikah dengan pengikut Mbah Sakrib dan beranak cucu di dusun Betoro Kidul.
Selain Betoro Katong yang melarikan diri ke pegunungan selatan, ada 7 tokoh lain yang juga menyebar di tiap desa. Ketujuh tokoh Majapahit tersebut adalah:
- Mbah Mendung Kusumo, menetap di Ngabean
- Mbah Joko Soro, menetap di Bedoyo
- Mbah Jugul Mudha, menetap di Sidorejo
- Mbah Kiai Gagak, menetap di Genjahan
- Mbah Wonokusuma, menetap di Wonontoro
- Mbah Reka Kusumo, menetap di Ponjong
- Mbah Alap Alap, menetap di Karangmojo
Ditulis oleh:
Wahyu Hidayat
Via Grup FB Ikatan Keluarga Gunungkidul

Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.