WMN 2015 -- Wonosari (23/12), Forum Jurnalis dan Riset (FJR) bersama MPI PDM Gunungkidul, dan PD IPM Gunungkidul mengajak Puluhan anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Gunungkidul untuk sadar akan pentingnya media dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu tujuannya dalam pemenuhan kebutuhan informasi sekaligus sarana dakwah organisasi. Demikian maksud kegiatan Pelatihan Jurnalistik Pelajar Muhammadiyah di Lantai Dasar Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Ahad (20/12).
Berkembangnya teknologi dan semakin pesatnya informasi yang didapatkan, membuat IPM melakukan pengembangan sumber daya manusia. Para kader yang notabene masih muda atau usia belasan tahun dirasa harus bisa terbuka dalam beralihnya teknologi informasi dari cetak atau manual ke layar digital yang bisa diakses kapan pun.
"Pelatihan ini memang baru pertama kali kita adakan. Kita ingin melakukan penyadaran kepada pelajar atas berkembangnya media sesuai dengan tema kita yakni Saatnya Menggenggam Media Untuk Gerakan Dakwah Pencerahan di Gunungkidul ," kata Immawan Muhammad Arif, Ketua Forum Jurnalis dan Riset (FJR) Gunungkidul.
Dijelaskan dia, beragam materi mulai dari dasar jurnalistik dan bagaimana mendapatkan berita hingga mengolah jadi sebuah berita disuguhkan dalam kegiatan tersebut. Seorang narasumber dari majalah pelajar tertua di Indonesia dan media online tertua di Gunungkidul Sorot Gunungkidul didaulat menjadi pembicara.
Terlepas dari itu, kegiatan ini juga dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia anggota Pelajar Muhammadiyah sebagai langkah mempersiapkan diri dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mudahnya barang dan tenaga kerja dari negara-negara tetangga yang masuk tentunya memerlukan persiapan mental dari para tenaga siap pakai dalam negeri, salah satu tenaga pewarta atau jurnalis.
Menurut Arif, pelajar di Gunungkidul merupakan sumber cadangan investasi jangka panjang yang memerlukan bimbingan pemerintah. Pemkab tentunya tak menginginkan daerahnya justru didominasi oleh produksi luar negeri dan tenaga kerja asing.
"Pelajar Muhammadiyah harus menerima kenyataan bila mereka mau tidak mau bersaing dengan negara asing di negeri sendiri, khususnya di Gunungkidul. Jangan sampai kita malah terpinggirkan dan kalah bersaing dengan SDM negara ASEAN," ungkap dia. (wmn/sg)
Salah satu tujuannya dalam pemenuhan kebutuhan informasi sekaligus sarana dakwah organisasi. Demikian maksud kegiatan Pelatihan Jurnalistik Pelajar Muhammadiyah di Lantai Dasar Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Ahad (20/12).
Berkembangnya teknologi dan semakin pesatnya informasi yang didapatkan, membuat IPM melakukan pengembangan sumber daya manusia. Para kader yang notabene masih muda atau usia belasan tahun dirasa harus bisa terbuka dalam beralihnya teknologi informasi dari cetak atau manual ke layar digital yang bisa diakses kapan pun.
"Pelatihan ini memang baru pertama kali kita adakan. Kita ingin melakukan penyadaran kepada pelajar atas berkembangnya media sesuai dengan tema kita yakni Saatnya Menggenggam Media Untuk Gerakan Dakwah Pencerahan di Gunungkidul ," kata Immawan Muhammad Arif, Ketua Forum Jurnalis dan Riset (FJR) Gunungkidul.
Dijelaskan dia, beragam materi mulai dari dasar jurnalistik dan bagaimana mendapatkan berita hingga mengolah jadi sebuah berita disuguhkan dalam kegiatan tersebut. Seorang narasumber dari majalah pelajar tertua di Indonesia dan media online tertua di Gunungkidul Sorot Gunungkidul didaulat menjadi pembicara.
Terlepas dari itu, kegiatan ini juga dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia anggota Pelajar Muhammadiyah sebagai langkah mempersiapkan diri dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mudahnya barang dan tenaga kerja dari negara-negara tetangga yang masuk tentunya memerlukan persiapan mental dari para tenaga siap pakai dalam negeri, salah satu tenaga pewarta atau jurnalis.
Menurut Arif, pelajar di Gunungkidul merupakan sumber cadangan investasi jangka panjang yang memerlukan bimbingan pemerintah. Pemkab tentunya tak menginginkan daerahnya justru didominasi oleh produksi luar negeri dan tenaga kerja asing.
"Pelajar Muhammadiyah harus menerima kenyataan bila mereka mau tidak mau bersaing dengan negara asing di negeri sendiri, khususnya di Gunungkidul. Jangan sampai kita malah terpinggirkan dan kalah bersaing dengan SDM negara ASEAN," ungkap dia. (wmn/sg)

Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.