0
WMN 2015 -- Dalam bukunya yang terkenal, Islam dan Masyarakat Banjar, almarhum Alfani Daud (Antropolog IAIN Antasari) pernah menyebut bahwa “Islam” pada dasarnya melekat dan berakar dalam cara hidup dan tradisi masyarakat Banjar. Hal ini terbangun sejak berdirinya Kerajaan Banjar.


Islam dan Banjar menjadi begitu identik sehingga muncul satu istilah yang sedikit berlebihan: “Islam adalah Banjar dan Banjar adalah Islam”.

Namun, kendati Islam dan Banjar cukup identik, ada satu hal yang sedikit terlupakan dalam kajian-kajian tentang “Islam Banjar” selama ini. Pemikiran Islam di Banjar, kendati dengan identifikasi sedemikian rupa, sebetulnya adalah sesuatu yang terus-menerus berubah seiring perkembangan zaman dan bukan pula sesuatu yang tunggal. Pada awal abad ke-20, sebagai hasil dari Perang Banjar, Belanda meneguhkan posisi sosial, ekonomi, dan politiknya di Kalimantan Selatan. Runtuhnya kerajaan Banjar menciptakan transformasi sosial dan politik yang cukup penting bagi terbentuknya pranata masyarakat Banjar yang modern.

Proses modernisasi ini berhubungan erat dengan terbentuknya struktur politik kolonial, berubahnya struktur ekonomi masyarakat, dan munculnya “golongan menengah” -meminjam istilah Farchan Bulkin (1984)- di Kalimantan Selatan. Dari titik inilah kita bisa memahami kemunculan Gerakan Muhammadiyah di Tanah Banjar.

Muhammadiyah terkenal sebagai gerakan ‘kaum muda’ yang pertama kali membawa paham modernis yang memperbarui pemahaman keagamaan masyarakat di awal abad ke-20. Lahirnya gerakan Muhammadiyah di Kalimantan Selatan bukan sekadar transfer dari struktur Muhammadiyah yang lebih luas di tingkat nasional (Darban dan Pasha, 1995), namun juga merupakan ‘buah’ dari modernisasi yang terjadi di Kalsel pasca-Perang Banjar. Dengan demikian, ada proses-proses transformasi lokal yang memungkinkan hadirnya Muhammadiyah dan memungkinkan ia terus bertahan hingga saat ini di tanah Banjar. (bersambung)

Ditulis oleh: 
Ahmad Risky Mardhatillah Umar
Mahasiswa Pascasarjana di University of Sheffield, UK, Warga Muhammadiyah di Inggris Raya

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top