0
WMN 2015 -- Artinya, dengan cara pandang demikian, kita bisa melihat Muhammadiyah sebagai perwajahan ‘yang-Lain’ dari Islam di tanah Banjar. Muhammadiyah di tanah Banjar tidak hadir hanya melalui pengiriman ‘dai’ dari tanah Jawa, melainkan juga berkembang pemikirannya secara organik.


Adalah wajar jika Muhammadiyah di Tanah Banjar juga menyumbangkan pemikiran yang khas dan unik bagi Muhammadiyah secara lebih luas. Di tahun 1950-an, misalnya, ada Gusti H Abdul Muis (Ketua PW Muhammadiyah 1972-1992) yang terkenal dengan pemikirannya soal tasawuf yang ia tuangkan dalam beberapa buku serta kuliah-kuliah beliau di Masjid Ar-Rahman, Kampung Melayu.

Pemikiran Gusti Abdul Muis, di satu sisi, menampilkan pengaruh dari ‘tradisi’ dalam pemikiran Islam Banjar (Gusti Abdul Muis adalah urang Martapura) dan pemikiran modernis di sisi lain. Beliau berargumen bahwa Islam mengenal tasawuf, namun termanifestasi dalam ajaran Islam soal tazkiyatun nafs. Dengan demikian, beliau berkesimpulan bahwa tasawuf tidak perlu dihindari dalam Islam, namun ia juga tidak perlu dicampur-adukkan dengan perkara ibadah.

Meskipun demikian, kita juga tidak bisa melupakan satu fakta bahwa ada kontestasi pemikiran ‘tradisionalis’ dengan ‘modernis’ --atau ‘Kaum Tuha’ dan ‘Kaum Muda’-- di Banjar. Hal demikian mestinya disikapi dengan wajar. Keduanya menampilkan dua wajah berbeda dari ‘Islam Banjar’ yang semestinya menjadi kekayaan khasanah budaya dan intelektual kita.

Hal yang terpenting di masa depan adalah mengedepankan dialog atas hal-hal yang bisa didialogkan serta mengedepankan sikap tasamuh -saling memahami- atas perbedaan sehingga tidak menimbulkan perselisihan. Dengan posisinya sebagai bagian penting dari masyarakat Banjar, ke depan, Muhammadiyah mempunyai peranan penting untuk membawa gagasan-gagasan modern tidak hanya di ranah keagamaan, tetapi juga muamalah duniawiyah. Pendirian beberapa amal usaha (termasuk Universitas Muhammadiyah Banjarmasin) harus didukung oleh kaderisasi intelektual generasi baru dari Persyarikatan.

Hal ini bisa dilakukan, misalnya, dengan mendorong penceramah muda di pengajian-pengajian Cabang serta mendorong tradisi literasi/kepenulisan yang lebih kuat, misalnya dengan menerbitkan buku/majalah. Pada titik inilah, mendorong warga Muhammadiyah untuk ‘belajar’ dan berdiaspora, sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan dulu, menjadi penting. Selamat milad ke-103, Persyarikatan Muhammadiyah. (tamat)

Ditulis oleh:
Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
Mahasiswa Pascasarjana di University of Sheffield, UK, Warga Muhammadiyah di Inggris Raya

Post a Comment

Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top