WMN 2015 -- Pada tahun 1963, Gunungkidul mengalami tragedi krisis pangan terburuk yang pernah terjadi. Kala itu banyak petani yang gagal panen, bukan karena bencana kekeringan namun, disebabkan oleh meledaknya hama tikus di hampir seluruh tempat di Gunungkidul, terutama di kawasan peisisir.
Ketika krisis pangan itu terjadi, masyarakat di Gunungkidul sangat kesulitan untuk memperoleh beras sebagai bahan pangan pokok. Karena sulitnya beras, masyarakat Gunungkidul terpaksa mengonsumsi Bonggol Pisang, ketela, atau olahan tepung ketela sebagai pengganti beras.
Tahun-tahun krisis pangan di Gunungkidul tersebut dikenal dengan zaman gaber. Zaman gaber berlangsung cukup lama, hampir selama tiga tahun. Selama itu pemerintah memberi bantuan tepung ketela yang difungsikan sebagai bahan pangan alternatif. Tepung yang terbuat dari ketela itu oleh masyarakat dinamai tepung Gaber. Karena hampir setiap hari masyarakat Gunungkidul hanya bisa makan gaber, maka disebutlah dengan Zaman itu dengan Gaber.
Bantuan makanan tidak hanya datang dari pemerintah namun, juga dari masyarakat Gunungkidul yang tergolong mampu. Seperti halnya di Kecamatan Semanu, orang-orang yang bekerja sebagai pegawai, membantu korban kelaparan dengan cara membuat penampungan. Di penampungan ini, mereka memberikan stok makanan. Karena memang di zaman itu, para pegawai pemerintah diberi jatah beras yang cukup, sehingga mereka bisa menyisihkan sebagaikan jatah beras untuk membantu para korban kelaparan. Mereka mendirikan semacam dapur umum di sekitar Kantor Kecamatan Semanu.
Tahun-tahun krisis pangan di Gunungkidul tersebut dikenal dengan zaman gaber. Zaman gaber berlangsung cukup lama, hampir selama tiga tahun. Selama itu pemerintah memberi bantuan tepung ketela yang difungsikan sebagai bahan pangan alternatif. Tepung yang terbuat dari ketela itu oleh masyarakat dinamai tepung Gaber. Karena hampir setiap hari masyarakat Gunungkidul hanya bisa makan gaber, maka disebutlah dengan Zaman itu dengan Gaber.
Bantuan makanan tidak hanya datang dari pemerintah namun, juga dari masyarakat Gunungkidul yang tergolong mampu. Seperti halnya di Kecamatan Semanu, orang-orang yang bekerja sebagai pegawai, membantu korban kelaparan dengan cara membuat penampungan. Di penampungan ini, mereka memberikan stok makanan. Karena memang di zaman itu, para pegawai pemerintah diberi jatah beras yang cukup, sehingga mereka bisa menyisihkan sebagaikan jatah beras untuk membantu para korban kelaparan. Mereka mendirikan semacam dapur umum di sekitar Kantor Kecamatan Semanu.
Ditulis oleh:
Rohhaji Nugroho
Via Website beritajogja

Post a Comment
Mari tinggalkan komentar dengan bahasa yang baik dan sopan karena Tulisanmu Harimaumu. Komentar Sobat adalah Pendapat Pribadi, tidak mewakili Pendapat Redaksi Website Mentari News (WMN). Komentar yang mewakili redaksi Website Mentari News hanya melalui akun Mentari News. Selamat Berkomentar Sobat.. Salam Indonesia Berkemajuan.
Note: only a member of this blog may post a comment.